BERITA TERKINI

6/recent/ticker-posts

Satu Tahun Kepemimpinan Ikbal - Dinda

Baca Juga

Pada tahun pertama kepemimpinan Iqbal–Dinda, kondisi ekonomi NTB belum sepenuhnya stabil. Awal 2025 ditandai tekanan di sektor tambang, pertumbuhan ekonomi yang sempat menyusut pada dua triwulan pertama, serta industri hilirisasi yang masih dalam tahap awal dan belum stabil.

Namun di tengah situasi tersebut, kondisi ketenagakerjaan justru menunjukkan perkembangan yang positif.

Sepanjang 2025, pasar kerja NTB membaik. Pada periode Agustus–November 2025 saja, jumlah tenaga kerja bertambah sekitar 29,57 ribu orang. Total penduduk bekerja mencapai sekitar 3,14 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada November 2025 turun menjadi sekitar 3,05 persen, lebih rendah dibanding Februari dan Agustus 2025.

Artinya, pemulihan ekonomi tidak hanya terlihat di angka pertumbuhan, tetapi juga benar-benar menciptakan lapangan kerja.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat, terutama di kalangan perempuan. Ini menunjukkan peluang kerja semakin baik dan kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi daerah ikut meningkat.

Sekitar 1,1 juta orang bekerja di sektor ini. Kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) hingga 125 memperkuat bahwa pertanian sangat penting bagi penghidupan masyarakat.
Menyerap sekitar 560–600 ribu tenaga kerja dan menjadi penghubung antara produksi dan konsumsi.

Sekitar 280–300 ribu tenaga kerja. Angka ini mulai naik seiring program hilirisasi.
Sekitar 200–240 ribu tenaga kerja, dengan dampak besar pada UMKM dan ekonomi lokal.
Hanya sekitar 40–50 ribu tenaga kerja. Meski besar kontribusinya pada PDRB, sektor ini relatif kecil dalam menyerap tenaga kerja.

Sepanjang 2025, penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi di sektor:

- Akomodasi dan makan minum

- Konstruksi

- Jasa lainnya

Hal ini menunjukkan pariwisata mulai pulih, proyek konstruksi kembali berjalan, dan sektor jasa semakin aktif. Peningkatan tamu hotel, mobilitas penumpang udara, serta konsumsi rumah tangga ikut mendorong pergerakan ekonomi.

Ekonomi NTB tidak hanya ditopang industri besar, tetapi juga oleh pergerakan ekonomi lokal.

Sektor akomodasi dan makan minum kembali menjadi sumber utama penciptaan kerja, berdampak langsung pada UMKM, pedagang kecil, pekerja informal, dan pelaku jasa pariwisata.

Sementara itu, sektor konstruksi juga penting karena setiap proyek menciptakan lapangan kerja sekaligus mendorong permintaan bahan bangunan, transportasi, dan konsumsi masyarakat sekitar.

Perbaikan ketenagakerjaan 2025 tidak hanya dari sisi jumlah, tetapi juga kualitas.

Jumlah pekerja formal meningkat, terutama buruh dan karyawan. Ini berarti semakin banyak pekerja memiliki pekerjaan yang lebih stabil dan terlindungi.

Persentase pekerja lulusan Diploma dan Universitas juga naik menjadi sekitar 14,20 persen. Ini menunjukkan kualitas SDM NTB mulai meningkat dan semakin terserap di sektor yang membutuhkan keterampilan.

Jumlah pengangguran dari Februari hingga November 2025 pun turun sekitar 3,91 ribu orang.

Gabungan dari meningkatnya pekerja formal, naiknya tenaga kerja terdidik, dan turunnya pengangguran menunjukkan bahwa pasar kerja NTB mulai membaik secara struktur, bukan sekadar pulih sementara.

Struktur ketenagakerjaan NTB 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat bekerja di sektor non-tambang:

  1. Pertanian dan Perikanan (35,37%)

  2. Perdagangan Besar dan Eceran (18–19%)

  3. Industri Pengolahan (8–10%)

  4. Akomodasi dan Makan Minum (6–8%)

  5. Pertambangan dan Penggalian (1,3–1,5%)

Ini menunjukkan bahwa kesejahteraan masyarakat NTB lebih bergantung pada pertanian, perdagangan, jasa, dan pariwisata dibanding tambang.

Walau 2025 merupakan tahun transisi dengan kontraksi ekonomi di awal tahun akibat penurunan produksi tambang, lapangan kerja tetap tumbuh.

Saat smelter mulai beroperasi dan ekonomi membaik di paruh kedua tahun, penyerapan tenaga kerja ikut meningkat. Artinya, transformasi ekonomi mulai memberi dampak nyata.

Dalam satu tahun pertama kepemimpinan Iqbal–Dinda, investasi besar tetap berjalan dan pertumbuhan mulai dirasakan sektor padat karya.

Meski hasil 2025 cukup baik, tantangan ke depan tetap besar:

  1. Memperluas lapangan kerja bagi generasi muda dan lulusan baru.

  2. Meningkatkan kualitas pekerjaan lewat pendidikan vokasi, pelatihan industri, dan kewirausahaan.

  3. Memastikan investasi besar terhubung dengan ekonomi lokal agar manfaatnya lebih luas.

Ke depan, fokus pada pertanian bernilai tambah, industrialisasi pangan lokal, penguatan UMKM, dan pariwisata berbasis ekonomi rakyat menjadi kunci menjaga penciptaan kerja.

Tahun pertama Iqbal–Dinda menunjukkan bahwa di tengah tekanan ekonomi, NTB tetap mampu:

- Menciptakan puluhan ribu lapangan kerja baru

- Menurunkan angka pengangguran

- Meningkatkan jumlah pekerja formal

- Meningkatkan kualitas SDM

Pemulihan ekonomi 2025 tidak hanya terlihat pada angka pertumbuhan, tetapi nyata dalam bentuk pekerjaan dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Ini menjadi awal dari proses panjang transformasi ekonomi NTB yang lebih inklusif dan berpihak pada rakyat. (Red)

Posting Komentar

0 Komentar