Baca Juga
Hadir dalam pertemuan itu Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional Letjen (Purn) Dadang Hendrayudha, jajaran Forkopimda NTB, Pelaksana Harian Sekretaris Daerah NTB, Ketua Satgas Percepatan MBG kabupaten/kota, serta para pimpinan perangkat daerah. Dari meja yang sama, dibahas bagaimana program ini tidak hanya memberi asupan gizi bagi anak, tetapi juga membuka ruang kerja bagi masyarakat.
Hingga hari ini, Program MBG di NTB telah menjangkau 1.793.423 penerima manfaat, ditopang oleh 670 Sentra Pengolahan Pangan Bergizi, melibatkan 2.719 mitra pemasok, dan menyerap 31.509 tenaga kerja lokal dalam waktu sekitar sepuluh bulan. Banyak di antaranya adalah ibu-ibu dapur, pelaku UMKM, dan petani yang kini punya pasar lebih pasti.
Yang terasa di lapangan, program ini membuat hasil panen lebih mudah terserap. Petani yang dulu kesulitan menjual jagung, telur, sayur, dan ikan, kini mendapat harga lebih layak karena ada kebutuhan rutin dari dapur-dapur MBG.
Tantangannya tetap nyata. NTB memiliki ratusan pulau berpenghuni dan wilayah 3T. Karena itu distribusi, pasokan bahan pangan, dan pengendalian harga menjadi perhatian utama agar peningkatan permintaan tidak berujung inflasi.
Program ini dipahami sebagai ekosistem: anak-anak mendapat gizi, orang tua mendapat pekerjaan, petani mendapat pasar, dan ekonomi desa ikut berdenyut.
Kerja seperti inilah yang ingin terus diperkuat—tenang, terukur, dan terasa manfaatnya di meja makan masyarakat NTB.(RED)

0 Komentar